Alasan Kenapa Rumah Subsidi belum Ada di Jogja

Artikel tentang Rumah subsidi di Jogja. Real Estate Indonesia (REI) Yogyakarta belum berencana membangun rumah bersubsidi atau rumah murah pada tahun ini. Mahalnya harga lahan di Yogyakarta menjadi kendala membangun rumah sesuai harga subsidi.

“Rumah bersubsidi aturannya tidak boleh lebih dari Rp110 juta, padahal harga lahan di Yogya tinggi,” tutur Nur Andi Wijayanto, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) REI DIY, Kamis (1/9/2016).

Dia menyebutkan pertumbuhan harga lahan di Daerah Istimewa Yogyakarta per tahun, terutama di wilayah Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kota Yogya, menempati posisi tiga besar di Indonesia, bersama dengan Bali dan Jakarta. Tingkat pertumbuhan rata-rata 10 persen di atas inflasi tahun sebelumnya.

“Inflasi tahun lalu di DIY 3,55 persen berarti minimal pertumbuhan harga tanah tahun ini sebesar 13,55 persen,” ucap dia.

Dari catatan sebelumnya, REI Daerah Istimewa Yogyakarta memasok 250 unit rumah subsidi pada 2012, 450 unit rumah pada 2013, dan 600 unit rumah pada 2014. Pada 2015 tidak ada rumah bersubsidi yang dibangun.

Pada tahun ini, REI DIY telah menargetkan pembangunan 2.200 unit rumah. “Harga yang dipasarkan masih di atas Rp300 juta per unit,” kata Andi

Andi optimistis target tersebut tercapai selama pemerintah konsisten memberi kemudahan dalam regulasi. Menurut dia selama ini yang jadi kendala utama sektor properti adalah regulasi yang kurang sederhana dan cenderung membuat proses produksi menjadi tidak efisien.

Dia mencontohkan proses perizinan mulai dari izin lokasi sampai sertifikat hak guna bangunan (HGB) pecah kavling membutuhkan waktu 18-24 bulan.

“Target pemerintah yang tercantum dalam Paket Kebijakan IV, yakni ada penyederhanaan regulasi sektor properti dari 40 menjadi 8 buah serta waktu akan dipersingkat menjadi tiga bulan,” kata Andi.

Properti Jogja Menggeliat

Sejauh ini sektor properti di Yogyakarta kian menggeliat. Pembangunan apartemen, perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan, termasuk juga pembangunan hunian/rumah, terus mengalami peningkatan. Bahkan bisnis properti di Yogyakarta dipastikan akan tumbuh di kisaran 10 persen sepanjang 2016.

Pesona Yogyakarta yang kental dengan pengaruh budaya Jawa ini merupakan salah satu ceruk pasar yang terbilang prospektif untuk pengembangan bisnis properti. Pergerakan kota modern yang berkembang pesat membuat banyak pendatang tertarik untuk bertempat tinggal di Yogyakarta atau berinvestasi properti di sini. Sejumlah kawasan besar seperti Sleman dan Bantul pun kini menjadi sasaran.

“Sektor properti dan industri bahan bangunan di Yogyakarta berkembang sangat pesat, permintaan material bahan bangunan meningkat,” kata Hantarman Budiono – Managing Director PT Saint-Gobain Construction Products Indonesia (SGCPI) – anak perusahaan dari Saint-Gobain Perancis, produsen papan gipsum Gyproc.

Dia menyebutkan tren peningkatan permintaan gipsum. Material ini banyak digunakan untuk plafon dan partisi/dinding khususnya pada bangunan apartemen, perkantoran, hotel, bahkan rumah sakit.

Won Siew Yee, Marketing Director SGCPI, menambahkan, di negara tetangga seperti Singapura produk semacam itu sudah banyak digunakan. Pemerintah Singapura tengah mendorong penggunaan drywall untuk menggantikan dinding bata sebagai usaha perlindungan terhadap lingkungan.

Bahkan, keseriusan pemerintah Singapura tersebut telah diwujudkan dalam bentuk regulasi dan menargetkan 80 persen dari bangunan-bangunan yang ada di sana sudah tersertifikasi label hijau pada 2030 nanti.

sumber : liputan6.com